Custom Search

Minggu, 01 Maret 2009

Teknik Budidaya ikan Nila

Tanya:
Mohon petunjuk budidaya ikan terutama nila, terima kasih.

M Pandu Kertajaga - Depok


Jawab:

Prinsip budidaya ikan secara umum sebagai berikut:

1. Kualitas tebaran. Riwayat benih nila harus jelas. Benih inbreeding (perkawinan satu keturunan) menyebabkan penurunan produktivitas karena pertumbuhan lambat dan rentan penyakit. Untuk nila, carilah benih yang sudah dijantankan semua, sebab lebih cepat tumbuh dibanding ikan betina. Benih harus sehat, lengkap anggota tubuhnya dan tidak sedang terserang penyakit. Ciri-ciri umum: benih aktif berenang, pergerakan dan nafsu makan normal, seimbang antara panjang dan berat.



2. Kualitas air. Untuk perairan tertutup (kolam) kualitas air bisa dikelola dengan baik karena fluktuasi kualitas air bisa dikendalikan. Tetapi jika perairan terbuka seperti KJA di waduk atau kolam air deras dan karamba sungai, akan sulit mengelola kualitas air.

3. Kualitas pakan. Manajemen pakan yang baik akan bisa meminimalisir pemborosan pakan. Kebutuhan pakan tergantung pola budidaya.

4. Penyakit. Bersifat oportunis, yaitu aktif saat lingkungan memburuk dan kondisi ikan melemah.


Pola budidaya ikan nila di kolam tertutup.

1. Persiapan lahan, meliputi :

- Pengeringan dan pengangkatan lumpur, untuk membuang kotoran dari budidaya sebelumnya. Waktu ideal 1-2 minggu hingga tanah retak-retak

- Pengapuran, untuk rneningkatkan pH jika tanah asam Berta untuk sterilisasi patogen. Pengapuran tidak perlu dilakukan pada tanah yang tidak asam. Dosis penggunaan kapur (Ca CO3) pada kondisi keasaman tanah 5 - 6.5 berkisar 0.2 - 0.5 kg/m2

- Pengisian air. Untuk rnengurangi predator dan varier penyakit, dipasang saringan halus di depan inlet.

- Pemupukan untuk menumbuhkan plankton hijau yang berfungsi sebagai penstabil kualitas air dan sebagai makanan alami bagi ikan nila.

Dosis yang digunakan :
organilk - kotoran ayam 0.5 kg/m2
anorganik -> Urea : TSP rasio 1:0.7 ppm


2. Penebaran benih, sesuai pola budidayanya.

a) Pola ekstensif (tradisional).
Mengandalkan pakan alami. Hanya perlu pemupukan. Kepadatan tebar antara 1-2 ekor/ m2. Hasil panen kurang lebih 1 ton/ha/periode, dengan ukuran 100-200 gr/ekor


b) Pola semiintensif
Memadukan pakan alami dan pakan tambahan. Jika menggunakan pakan komersial dibutuhkan 2-3% biomass per hari dan pemupukan secara periodik. Kepadatan antara 3-5 ekor/ M2. Pada pola ini pergantian air harus mulai dilakukan untuk memelihara kualitas air. Hasil panen kurang lebih 3-5 ton/ha/periode pemeliharaan, dengan ukuran 100-200 gr/ekor

c) Pola intensif
Mengandalkan pakan buatan. Kepadatan tebar 5-10 ekor/m2, pakan buatan 3-5% biomass per hari, intensitas pergantian air 5-10% per hari, saat ikan mulai mengkonsumsi banyak pakan. Diperlukan sejumlah kincir untuk memelihara oksigen agar kandungannya > 4 ppm. Panen 10-15 ton/ha/periode pemeliharaan, ukuran 200-300 gr/ekor


d) Pola super intensif
Menerapkan berbagai fasilitas lengkap. Kepadatan sangat tinggi, antara 100-200 ekor/m2. Didukung aerasi, filtrasi dan sumber air yang cukup untuk mengelola kualitas air. Menggunakan kolam ukuran kecil sehingga pengelolaan lebih mudah. Hasil panen 1-2 ton/100 m2 dengan berat kurang lebih 300 gr/ekor.


3. Manajemen pakan
Pemberian pakan buatan mutlak pada pola intensif. Yang paling mudah diaplikasikan adalah pakan apung (kandungan protein 28-32%) karena habisnya pakan bisa terduga dibandingkan pakan tenggelam. Agar pemberian pakan efisien :
Jenis dan ukuran cocok dengan ikan budidaya.
Aturwaktu pemberian pakan agar nutrisi terserap
sempurna.

Nila diberi makan 3-4 kali sehari
dengan interval sama
Terapkan feeding rate (persentase pemberian pakan) atau teknik kekenyangan 90%
Sesuaikan jumlah pemberian pakan dengan kondisi lingkungan. Saat suhu rendah, kurangi pemberian pakan,juga saat hujan atau mendung sebab oksigen akan lebih rendah.*sumber : TROBOS, 2008

komentar-komentar

Recent Comments Widget by Blogger Widgets

Google+ Followers