Custom Search

Jumat, 17 April 2009

Budidaya Ikan Baronang


Baronang

Baronang merupakan salah satu jenis ikan laut yang banyak diminati oleh konsumen karena rasa dagingnya lezat. Di perairan Indonesia terdapat tidak kurang dari 7 spesies ikan baronang, yaitu Siganus javus, S. argentinzaculatus, S. vermiculatus, S. guttatus, S. spinus, S. Rivulatus, dan S. canaliculatus. Di antara ketujuh jenis baronang tersebut yang potensial untuk dibudidayakan adalah S. guttatus dan S. canaliculutus. Kedua jenis ikan tersebut cepat tumbuh dan toleran terhadap kondisi berjejal dan stres.


A. Sistematika
Famili : Siganidae
spesies : Siganus guttatus, S. canaliculatus, S. Javus, S. virgatus
Nama dagang : siganids, rabbit fish
Nama lokal : samadar, dingkis, kea-kea



b. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Famili ikan ini terdiri dari dari satu genus, yaitu Siganus. Tubuhnya pipih lateral (compressed) yang dilindungi sisik sikloid kecil-kecil. Linea-lateralis sederhana. Mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi yang kecil. Punggungnya dilengkapi dengan sebuah duri yang tajam mengarah ke depan. Posisi duri di bagian depan dari sirip punggung. Biasanya duri ini tertanam di bawah kulit.

Duri-duri dilengkapi dengan kelenjar bisa/racun pada ujungnya.
Tubuhnya berwarna keperakan di bagian punggung. Sementara itu, bagian perut dan dada berwarna putih, tergantung dari jenis baronang.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Variasi jumlah telur ikan baronang yang berukuran panjang 22-27 cm adalah antara 200.000-1.300.000 butir. Juwana baronang S. guttatus yang berukuran D35 dapat mencapai berat 5o g atau panjang total 12 cm dalam 115 hari. Sementara itu, baronang S. canaliculatus dapat mencapai berat 93 g/ekor selama 5 bulan pemeliharaan dari benih berukuran 25 g/ekor.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya
ikan ini hidup di perairan payau dan laut di daerah tropis. Salinitas terbaik untuk inkubasi telur adalah antara 10-51 ppt. Sementara itu, salinitas untuk perkembangan larva yang masih mengandung kuning telur adalah 14-37 ppt.


D. Wadah Budi Daya
Ikan ini dapat dibudidayakan di karamba jaring apung dan tambak. Benihnya ditempatkan pada karamba berukuran 2 m X 2 m X 2 m yang bermata jaring 12-25 mm.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Ketersediaan benih masih terkendala. Pembudidaya memperoleh benih ini dari hasil tangkapan alam. Kini, benih dari hatchery sudah bisa diperoleh. Pada musim tertentu benih S. canaliculatus banyak terdapat di perairan pantai pada lokasi tertentu (Sulawesi Selatan).


2. Penebaran benih
Benih berukuran 30-50 g/ekor dapat ditebarkan dalam karamba dengan kepadatan 250 ekor/m2

3. Pendederan
Benin berukuran 1-3 g/ekor dapat didederkan dalam karamba bermata jaring 22 min dengan kepadatan 300-5oo ekor/m3. Untuk mencapai ukuran 30-50 g, diperlukan waktu pendederan 2 bulan.

4. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan berupa pakan buatan (pelet) dengan dosis 3-5% bobot badan. Pakan tersebut diberikan 3 kali sehari (pagi, Siang, dan malam hari).


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Ikan baronang (S. guttatus) dapat terserang parasit sejenis dinoflagelata, yaitu Amyloodinium ocellatum. Organ yang diserang adalah insang dan kulit. Ikan yang terinfeksi oleh parasit ini menunjukkan gejala berenang megap-megap di permukaan, muncul warna merali di sekeliling mulut, dan gejala anemia. Bahkan, jika terinfeksi berat, dapat berakibat kematian pada ikan.

Pencegahan dan pengobatan, yaitu dilakukan perendaman dengan formalin 200 ppm selama satu jam disertai aerasi kuat. Hal ini disebabkan
penggunaan formalin dengan dosis tinggi dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air, selain ikan sangat sensitif terhadap formalin.

Jamur yang sering menyerang ikan laut adalah Ichthyophonus sp. Tanda adanya infeksi jamur, yaitu pada setiap ikan berbeda. Beberapa ikan terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, ada juga yang ditandai dengan pembengkakan organ dalam, seperti limpa, hati, dan ginjal disertai benjolan putill berdiameter hingga lebih dari 2 mm, kadang disertai pembengkakan perut dan bergerak tak menentu.


Efek lain yang timbul adalah ikan kehilangan nafsu makan sehingga menjadi kurus dan menderita anemia. Pengobatannya belum diketahui. Untuk menghindari serangan penyakit ini, sebaiknya sejauh mungkin dihindari pemberian pakan yang terkontaminasi jamur.

Penyakit bakterial penting pada ikan baronang, yaitu penyakit yang disebabkan bakteri Vibrio spp. dan Streptococcus sp. Gejala yang timbul, antara lain nafsu makan menurun, warna tubuh menjadi lebih gelap, perdarahan (hemoragi) multifokal pada sirip, dan mata buram/keruh serta sering kali menonjol. Infeksi kronis umumnya menyebabkan insang pucat.


Pencegahannya dengan mempertahankan kualitas perairan, melakukan penanganan sesuai prosedur, padat penebaran yang lebih rendah, dan vaksinasi. Pengobatannya dengan perendaman ikan sakit ke dalam larutan nitrafurazone 15 mg/l selama 2 jam atau Chloramphenicol 5o mg/l selama 4 jam. perendaman dapat juga dengan Supphonamide 5o mg/l selama 4 jam.



G. Panen
Baronang dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 300-400 g/ekor dengan waktu pemeliharaannya selama 3-4 bulan. Adapun cara panennya seperti panen ikan umumnya di KJA.
Baronang siap panen Lamanya pemeliharaan sekitar 3-4 bulan untuk menghasilkan baronang siap dikonsumsi
sumber :Penebar Swadaya, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar-komentar

Recent Comments Widget by Blogger Widgets