Custom Search

Kamis, 20 Agustus 2015

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.
2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature, CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond bottom and watershed.



Minggu, 28 September 2014

Kebiasaan Makanan Ikan (food habit)

Kebiasaan Makanan Ikan (food habit)

adalah hal-hal yang mencakup kualitas maupun kuantitas makanan yang dimakan oleh ikan. makanan yang tersedia bagi ikan akan mempengaruhi beberapa fungsi biologis yaitu :

1. Pertumbuhan berupa peningkatan berat badan
2. pertahanan tubuh dalam kaitannya dengan produksi bahan untuk kekebalan tubuh
3. perubahan fisik/morfologis pada proses tumbuh kembang ikan.

Jumat, 26 September 2014

BUDIDAYA IKAN TAMBAKAN (Helostoma teminckii)

BUDIDAYA IKAN TAMBAKAN (Helostoma teminckii)
Disusun oleh : Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya

I.                    SISTIMATIKA

Genus                    : Helostoma
Famili                    : Anabantidae
Sub Ordo              : Anabantoidea
Ordo                     : Labyrinthici


II.                  CIRI-CIRI
·                        Badan pipih ke samping (compressed) memanjang oval. Mulut  dapat disembulkan, celah mulut horizontal sangat kecil.
·                         Rahang atas dan bawah sama, bibir  tebal mempunyai deretan gigi biasanya ujungnya hitam.
·                         Sisik bergerigi berukuran sedang( ll) terputus di bawah sirip dorsal yang lunak kemudian bersambung dengan ll yang berada di bawah.
·                        Sirip punggung terdiri dari 16-18 duri dan 13-16 jari-jari lemah terletak di depan aanal. Sirip dubur mempunyai 13-15 duri dan 17-19 jari-jari lemah. Sirip punggung dan dubur yang lemah membulat dan ujungnya lebih tinggi daripada bagian yang berjari-jari keras, yang mempunyai sisik pada dasarnya dan ujungnya lebih tinggi daripada bagian yang berjari-jari keras, yang mempunyai sisik pada dasarnya, dan berjari-jari yang bercabang.
·                        Sirip dada membulat, sisip perut terletak di bawah sirip dada dan berjari-jari keras  mempunyai 5 jari-jari lemah dengan jari-jari yang pertama mengalami modifikasi berbentuk benang memanjang,
·                        Tinggi badan dua kali panjang standar atau kurang lebih 2 ,5 kali panjang total.
·                        Sisik pada daerah punggung kehijauan atau kelabu, lebih terang pada bagian perut dan mempunyai garis longitudinal. Sisik tergolong ctenoidm jika diraba kasar karena adanya duri-duri pada bagian tepi.
·                        Rumus jari-jari sirip dan sisik:
D.XVI-XVIII 13-16; A. XIII-XV 17-19; P. 2..ii ; V. 1.5.
L.1 44-48 L.tr 8/15-16.



III.                SIFAT-SIFAT

Jenis ikan ini merupakan ikan sungai dan rawa. Benih dan ikan dewasa memakan phyto dan zooplankton di permukaan air atau di bagian tengah. Benih tumbuh cepat jika di perairan terdapat banyak Flagellatae, dinflagellatae, pop tocavales, desmidiaceae, dan diatomae.
Jenis jasad-jasad nabati yang merupakan makanan ikan tambakan dari suatu paerairan antara lain : euglena acus, raphidium, staurastrum, scenedesmus, peridinium, phacus pleuroncetus, pediastrum, chlamydomonus, chlorell, dina bryon, cocconeus,
Gonium, eunotia, navicula, pleurosigma, cumbella.
                        Tambakan biasa dipelihara tidak lebih dari ketinggian 750 m, cocok pada suhu 25-300C. Tahan pada kadar oksigen rendah karena mempunyai alat pernapasan tambahan.
            Pembiakan terjadi ketika ikan ini berumur 12-18 bulan, panjang kira-kira 20 cm. Ovarium yang terdapat pada induk yang siap untuk berbiak berwarna kuning dan banyak mempunyai pembuluh darah terutama di daerah lateral sebela dalam. Frekuensi pembiakan dapat terjadi setiap 3 bulan sekali jika cukup makanan. Telur mempunyai garis tengah 1 mm, mempunyai globul lemak, pelagis, berwarna kunig keputihan jika baru dikeluarkan dan berwarna hitam pada hari berikutna. Embrio menetas 24 jam setelah fertilisasi. Larva hidup di bawah tumbuh-tumbuhan atau benda-benda yang mengapung sampai hari ketiga atau keempat.
            Induk yang beratnya 200 gram menghasilkan benih 1000-7000 ekor, jenis ikan ini tidak mempunyai musim pemijahan tertentu. Produksi per tahun juja perairan subur sebagai akibat dari pemupukan dapat mencapai 500 kg/ha.

IV.               JENIS-JENIS TAMBAKAN
Menurut R.O. Ardiwinata (1951) dikenal dua macam tambakan yaitu :
a.                                                      Tambakan gibas ; benihnya berwarna kehijauan perut putih mengkilap, sisik daerah punggung berwarna kehijauan atau kebiruan mata jernih, badan buntak dan lebar badan lembek. Induk betina yang sudah matang kelamin perutnya mulai dari lubang genital sepanjang rongga perut.
b.                                                      Tambakan kanyere; benih berwarna kekuningan , badan relatif lebih panjang, dua atau tiga sisik di punggung atau di badan mengkilap bintik mata agak kelabu badan lebih keras, induk yang matang telur perut membengkak hanya dekat lubang genital saja.
V.                 PEMELIHARAAN
Seperti halnya pada ikan gurami, maka tambakan dipelihara sebagai polikultur bersama jenis ikan lainnya seperti ikan nilem, mas, dan tawes. Memanfaatkan berbagai niche (habitat) dalam perairan sehingga produktivitas kolam meningkat. Jika makanan diandalkan kepada makanan  alami maka kolam sebaiknya berair diam. Tidak mengalir, agar supaya plankton dapat tumbuh dengan subur dan tidak ada yang hanyut keluar kolam. Apalagi air kolam telah dipupuk maka zat hara akan banyak terbuang pula sehingga dapat mengurangi kesuburan air sehingga pertumbuhan plankton kurang subur, jenis ikan ini baik sekali sebagai ikan yang dipelihara dikolam pekarangan, kolam dibelakang rumah yang menerima sisa sisa dapur, cucian.
Campuran pemeliharaan ikan nilem dengan jenis jenis ikan lainnya bermacam macam dengan kondisi sebagai berikut
Contoh I           Tambakan       50%
                         Nilem              20 %
                         Tawes              10%
Contoh 2          Tambakan       37 %
                         Nilem              12%
                         Mas                 12%
                         Tawes              37%
Contoh 3          Mujair             40%
                         Tambakan       20%
                         Tawes              15%
                         Nilem              15%
                         Mas                 10%
Pada contoh pertama dimana prosentasse tambakan paling tinggi dilakukan pemeliharaan dikolam kolam yang airnya diam atau sedikit air masuk. Plankton harus tumbuh dengan suburnya dikolam ini. Pemupukan melalui pupuk anorganik atau pupuk organik perlu dilakukan bergantung kepada kesuburan air, makanan tambahan dapat diberikan terutama untuk ikan mas dan tawes.
Pemupukan dengan pupuk anorganik urea atau DS adalah pemupukan air sehingga harus diusahakan agar pupuk tersebut larut sebanyak banyaknya dalam air jadi bukan pemupukan dasar kolam yang dapat menyebabkan sebagian pupuk terikat dalam tanah lumpur dasar kolam
Pada contoh kedua kolam  tidak begitu subur dengan plankton karena antaralain banyak air yang masuk. Ikan tawes dapat merupakan  ikan utama untuk dipanen dari kolam tersebut. Makanan tambahan bagi ikan tawes seperti daun daunan perlu diberikan.
Pada contoh ketiga ikan mujair merupakan ikan utama, kolam dapat menerima cukup air, atau kurang mendapat air, makanan tambahan perlu diberikan terutama untuk tawes dan mas. Karena prosentase ikan mas rendah mungkin dari makanan sudah cukup.
Ikan Tambakan dapat merupakan ikan lauk pada umur ± 5 bulan, beratnya  ±50gr/ekor. Ikan tambakan merupakan ikan yang lambat tumbuhnya tetapi ada keistimewaannya yaitu dapat ditebarkan lebih padat dan kondisi air kolam yang kurang zat Asam. Pada umumnya pemeliharaan ikan  makanan ini banyak dilakukan dikolam dan jarang sekali dilakukan disawah.



VI.               PEMBENIHAN
Untuk mendapatkan hasil benih yang baik maka induk induk harus matang kelamin  dan sehat sehat. Induk induk biasa dipelihara dikolam khusus dan cukup mendapat makanan. Untuk kolam yang luasnya 150m2 dapat dipelihara 75-300 pasang induk. Kedalaman air ± 50-60cm. Dasar kolam sebaiknya berlumpur dan bercampur pasir. Makanan tambahan diberikan dua kali sehari kira kira 3% dari berat badan per hari.
a.      Tanda Tanda induk yang matang kelamin
Induk biasa matang kelamin mulai umur 12 – 18 bulan beratnya ± 150gr
·         Betina : Badannya relatif lebih tebal agak membulat, jinak dan sisiknya terutama mulai dari dagu keperut lebih putih bersih daripada jantan, perut mengembang  pangkal sirip dada kemerahan
·         Jantan : Badan relatif lebih tipis memanjang liar warnanya mulai dari dagu keperut lebih daripada ikan betina, jika perut diletakan keluar sperma berwarna putih. Paada punggungnya dan pipi sampai ke dagu terdapat banyak sisik yang berwarna kehitaman.

b.      Persiapan pemijahan
Pemijahan ikan Tambakan dilakukan dikolam atau sawah
·         Persiapan kolam pemijahan
Kolam pemijahan harus dikeringkan dan dijemur beberapa hari sehingga dasar kolam bener benar kering. Retak retak karena terlalu lama pengeringan tidak merugikan, karena tidak seperti halnya pada ikan tawes telur ikan tambakan bersifat planktonis terapung karena banyak mengandung globul lemak.
·         Persiapan pemijahan disawah
Pemijahan disawah dilakukan setelah padi dipanen. Sawah dikeringkan beberapa hari.    Jerami dibiarkan tidak dipotong. Pematangan dibetulkan diperlebar dan diperkuat. Cara membuat pematang adalah sbb: dibagian sawah dekat pematang selebar ± 1 m, jerami dipotong. Tanah dasar yang bekas dari jerami dipergunakan untuk memperbaiki pematang. Ukuran pematang lebar dasar 80cm dan tingginya 50cm. Akibat dari pembuatan pematang ini maka sekitar pematang terjadi parit yang dipergunakan sebagai tempat pemupukan. Di pematang itu dibuat saluran pemasukan dan pengeluaran air. Dasar kolam ditutup dengan jerami merata sehingga jika kolam diairi jerami akan terapung merata menutupi permukaan air. Maksud pemberian jerami tsb. Untuk menghindarkan pengumpulan telur disuatu tempat karena terbawa angin dan untuk menghindari perubahan suhu yang mendadak jika turun hujan. Bocor bocoran kolam harus ditutup. Untuk menghindari ikan ikan liar yang masuk maka tempat pemasukan air diberikan saringan. Untuk menghindarkan bocornya air melalui papan monik maka papan dilapisi dengan pelastik.





c.       Memijahkan
Pagi pagi kolam diairi, kira kira air telah mencapai 2/3 induk induk dilepaskan. Pelepasan induk ini biasanya pagi pagi tidak lebih dari jam 10.00. Jika pemijahan telah terjadi maka tercium bau amis. Telur bergaris tengah 1-1 1/2mm. Selama terjadi perkembangan embryo telur berubah warnanya yaitu berwarna cokelat setelah 12 jam dan kehitaman setelah 18 jam. 24 jam setelah pemijahan mulai terjadi dan penetasan selesai dalam 12 jam . Larva terapung dengan perut diatas, banyak mengandung pigmen. Setelah larva berumur 21 hari, mereka berenang dengan perut dibawah. Sampai umur 3-4 hari benih belum aktif berenang tetapi tetap tinggal diam dibawah jerami.
Memijahkan ikan Tambakan di sawah tidak banyak berbeda seperti halnya memijahkan dikolam seperti dikemukakan diatas.
d.      Hasil benih
Hasil benih sangat bergantung kepada faktor induk dan kesuburan kolam induk-induk yang pertama kali memijah hasilnya relatif rendah daripada pemijahan kedua,ketiga dan keempat. Hasilnya benih umur 30 hari dari seekor induk yang beratnya 200 gram adalah sbb :

Pemijahan Ke
Hasil benih
I
3.000 ekor
II
4.000 ekor
III
7.000 ekor
IV
5.000 ekor
V
2.000 ekor
VI
1.000 ekor

Kolam-kolam yang subur menghasilkan benih-benih yang lebih banyak daripada kolam yang tidak subur. Hal ini disebabkan karena tersedianya cukup makanan di kolam-kolam yang cukup subur. Sebagai perbandingan, hasil benih dari 3 macam kondisi kolam adalah sbb :







Kesuburan
Kolam
Luas
Kolam
(m2)
Induk Betina
Induk Jantan
Jumlah benih pada umur
(ekor)
Jmlah
(ekor)
Berat
(kg)
Jmlah
(ekor)
Berat
(kg)
20
hari
30
hari
40
hari
Subur sekali
400
8
1,8
12
1,8
48000
44000
41000
Subur
400
8
1,8
12
1,8
40000
40000
28000
Kurang subur (sedang)
400
8
1,8
12
1,8
34000
34000
18000


Hasil benih tambakan dari masing-masing induk yang beratnya berlainan adalah :
Berat Induk (gr)
Hasil benih (ekor)
250
225
200
175
150
6.000
5.000
4.500
3.500
3.000

5. Penangkapan Benih
            Sehari sebelum penangkapan dilakukan, jerami serta kotoran lainnya diangkat dari kolam. Penangkapan pada pagi hari atau sore harim dimana suhu relatif rendah.
Air dikeluarkan perlahan-lahan. Di depan pembuangan dipasang saringan. Jika air sudah rendah dibuat selokan lebar 0,5 meter dan dalamya 20 cm, mulai dari tempat pemasukan ke tempat pengeluaran. Kurang lebih 3 m depan pembuangan dibuat lokal kecil ukuran 2 m x 2m dan dalamnya 30 cm. Benih yang berkumpul di kolam tersebut diangkat dengan ayakan penyinduk atau sirib yang halus.
            Jika benih itu tercampur dengan  benih ikan mas dan nilem maka di selokan nagian tengah kolam dibuatkan petaka kecil. Air kolam terus mengalir sehingga benih ikan mas dan nilem akan mudik sedangkan tambakan akan turun ke kolam di depan pembuangan.
6. PENDEDERAN

Benih-benih berukuran 20-30 hari didederkan di kolam-kolam yang sudah dipersiapkan. Kolam tersebut telah dipupuk biasanya campuran dari pupuk kandang dan pupuk hijau, yaitu daun-daunan yang cepat membusuk. Pendederan dilakukan pula di kolam-kolam yang mendapat air limbah. Penebaran serta hasil benih yang dicapai adalah sebagai berikut :
Umur Benih
(Hari)
Padat Penebaran
( x 1000 ekor)
Lama pemeliharaan
(hari)
Hasil
(x 1000 ekor)
20 (1-2 cm)
30
30
30
20
60
50
30
30
20 (3-5cm)
16 (3-5 cm)
12 (6-9) cm

Makanan tambahan dan dedak halus diberikan pula.

8. PARASIT DAN PENYAKIT

Parasit dan penyakit yang menyerang ikan tambakan tidak serius. Lenaea dapat pula menyerang benih tambakan sampai ukuran 3 cm. Prosentasi infesksi sampai 1,%.
Argulus sering ditemukan pada jenis ikan ini namun tidak menimbulkan kematian. Infeksi sekunder pada lubang-lubang yang ditimbulkan oleh parasit ini biasa terjadi. Pada tambakan albino, lubang-lubang bekas argulus tersebut ditumbuhi alga yang berkelompok di dalam daging tambakan. Namun hal ini tidak berbahaya.
            Infeksi akibat penanganan yang kasar pada waktu pengangkutan danpenangkapan biasa menyebabkan terjadinya bercak-bercak merah atau sirip putus mungkin diserang bakteri yang menyebabkan kematian.

9. PENGANGKUTAN
Lamanya pemberokan sebelum pengangkutan dilakukan bergantung kepada ukuran ikan, kepadatan dan lamanua perjalanan yang akan dilakukan. Pengangkutan tambakan dilakukan secara terbuka dan tertutup. Pengangkutan terbuka dilakukan dengan mempergunakan keramba, kedalaman air 15 cm.
Jika perjalanan melebihi 4 jam maka penggantian air dilakukan setiap 4 jam sekali. Jika perjalanan lebih dari 1 hari, maka selama ikan beristirahat diberi makanan berupa dedak halus.
Pengangkutan tertutup dilakukan dalam kantong plastik yang diberi oksigen.



Kamis, 04 September 2014

Pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia Tahun 2014

PENGUMUMAN

Nomor B-103/SJ.2/KP.310/VIII/2014
TENTANG 

PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

KEMENTERIAN  KELAUTAN DAN PERIKANAN

TAHUN 2014

Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Tahun 2014 berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 370 Tahun 2014 mendapat Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk pelamar umum sejumlah 518 orang, yang akan ditempatkan/ditugaskan untuk mengisi kekosongan jabatan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan ketentuan sebagai berikut :
selanjutnya ......

Sumber : http://www.ropeg.kkp.go.id

Sumber Berita: www.ropeg.kkp.go.id

http://www.ropeg.kkp.go.id/berita-pengumuman-pengadaan-cpns-tahun-2014.html##ixzz3COcGixYa

Sabtu, 09 Agustus 2014

Klasifikasi Udang Cherax

Klasifikasi Udang Cherax

Cherax sp

Bahasa Inggris : Redclaw

Deskripsi
Ordo : Decapoda
Famili : Parastacidae
Genus : Cherax
Ciri-ciri : Ukuran Tubuhnya secara alami besar.  Badannya terdiri dari dua bagian, yaitu kepala (cephalotorax) dan badan (abdomen) Ada bagian antaranya yaitu subcephalotorax. seluruh tubuhnya diselimuti dengan cangkang yang dikenal sebgai karapas yang berbahan zat tanduk atau kitin.


sumber : KKP. Ditjen Perikanan Budidaya, direktorat produksi, 2012

Kamis, 24 Juli 2014

Perbedaan pengertian antara tambak dan Kolam



Perbedaan pengertian antara tambak dan Kolam 

Tambak :
Wadah berupa lahan atau tempat yang dibuat khusus untuk membudidayakan ikan yang dibatasi oleh pematang / tanggul yang letaknya di pantai atau pesisir dimana sumber airnya berasal dari air laut dan atau air payau.

Kolam :
Wadah berupa lahan atau tempat yang dibuat khusus untuk membudidayakan ikan yang dibatasi oleh pematang / tanggul yang letaknya di daratan, dimana sumber airnya merupakan air tawar yang berasal dari danau, waduk, sungai, saluran irigasi, rawa atau mata air. Sumber : Kementerian kelautan dan perikanan, direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi, tahun 2012. 


Kolam Ikan  = wadah untuk membudidayakan ikan,

1.            Undang-undang Republik Indonesia No. 45 tahun 2009, tentang perubahan atas  Undang-undang nomor 31 tahun 2004. Tentang Perikanan. Pasal 1 Ayat 3. Lingkungan sumber daya ikan adalah perairan tempat kehidupan sumber daya ikan, termasuk biota dan faktor alamiah sekitarnya


2.            Keputusan Menteri Kelautan dan  Perikanan  Republik Indonesia Nomor Kep.02/men/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik. BAB I Pengertian Umum  Huruf A. Poin 11.  Pengertian dari Wadah Budidaya  adalah tempat untuk memelihara ikan.

Kolam ikan  terdiri dari  :
1.            Kolam Air Tenang (KAT)
2.            Kolam Air Deras (KAD)

komentar-komentar

Recent Comments Widget by Blogger Widgets

Google+ Followers