Custom Search

Kamis, 20 Agustus 2015

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.
2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature, CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond bottom and watershed.



Kamis, 24 Juli 2014

Perbedaan pengertian antara tambak dan Kolam



Perbedaan pengertian antara tambak dan Kolam 

Tambak :
Wadah berupa lahan atau tempat yang dibuat khusus untuk membudidayakan ikan yang dibatasi oleh pematang / tanggul yang letaknya di pantai atau pesisir dimana sumber airnya berasal dari air laut dan atau air payau.

Kolam :
Wadah berupa lahan atau tempat yang dibuat khusus untuk membudidayakan ikan yang dibatasi oleh pematang / tanggul yang letaknya di daratan, dimana sumber airnya merupakan air tawar yang berasal dari danau, waduk, sungai, saluran irigasi, rawa atau mata air. Sumber : Kementerian kelautan dan perikanan, direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi, tahun 2012. 


Kolam Ikan  = wadah untuk membudidayakan ikan,

1.            Undang-undang Republik Indonesia No. 45 tahun 2009, tentang perubahan atas  Undang-undang nomor 31 tahun 2004. Tentang Perikanan. Pasal 1 Ayat 3. Lingkungan sumber daya ikan adalah perairan tempat kehidupan sumber daya ikan, termasuk biota dan faktor alamiah sekitarnya


2.            Keputusan Menteri Kelautan dan  Perikanan  Republik Indonesia Nomor Kep.02/men/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik. BAB I Pengertian Umum  Huruf A. Poin 11.  Pengertian dari Wadah Budidaya  adalah tempat untuk memelihara ikan.

Kolam ikan  terdiri dari  :
1.            Kolam Air Tenang (KAT)
2.            Kolam Air Deras (KAD)

Rabu, 23 Juli 2014

ciri ikan sidat

ikan sidat
bahasa Inggris : Freshwater eels
di pulau jawa ikan sidat disebut dengan nama Mowa, Sidat, Olling, Lara.

Deskripsi
Ordo : Apodes
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Ciri - ciri ikan Sidat Tubuh Ikan sidat ini memiliki tubuh yang panjang serta tubuhnya dilapisi sisik kecil berbentuk memanjang. Susunan sisiknya tegak lurus terhadap panjang tubuhnya.
Pada Sirip bagian anus menyatu serta berbentuk seperti jari-jari yang melemah. sirip dada terdiri atas 14 - 18 jari-jari sirip (suitha dan Suhaeri, 2008) kulitnya halus berwarna kecoklatan. pada bagian punggung berwarna hijau, dan pada bagian perut berwarna putih bersih (Sasongko, dkk 2007)
pajang kepala sidat 8 - 12 kali mata. Badan berwarna gelap dan tidak berbintik-bintik dan bagian perut lebih cerah.


Rabu, 16 Juli 2014

Arapaima gigas

Arapaimapirarucu, atau paiche (Arapaima gigas) adalah jenis ikan air tawar yang mempunyai ukuran raksasa, ikan ini  berasal dari perairan daerah tropis Amerika Selatan. Ikan Arapaima dapat tumbuh maksimal dengan panjang  3 meter dan berat 200 kilogram. Saat ini sudah sangat jarang terdapat arapaima yang berukuran lebih dari 2 meter karena ikan ini sering ditangkapi untuk dikonsumsi penduduk atau diekspor ke negara lain.


Klasifikasi Ilmiah 

kerajaan : Animalia
Filum : Chordata 
kelas : Actinopterygii
Ordo : Osteoglossiformes
Famili : Osteoglossidae
Upafamili : Heterotidinae
Genus : Arapaima 
Spesies : A. gigas

Sabtu, 14 Juni 2014

Kementerian Kelautan dan Perikanan dorong upaya pencegahan introduksi ikan asing

KKP Dorong Upaya Pencegahan
Introduksi Ikan Asing

Terancamnya beberapa jenis ikan endemik dan punahnya beberapa jenis ikan endemik Indonesia di beberapa perairan umum merupakan ancaman serius terhadap keanekaragaman dan kelestarian sumberdaya ikan Indonesia. Kenyataan ini memberi pelajaran untuk segera mengambil langkah konkrit dan strategis agar dampak negatif dari introduksi ikan asing dapat diminimalisir.  Untuk itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan upaya konkrit dan strategis dalam rangka mencegah dan mengendalikan species invasif. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo di Jakarta, Senin (9/6).

Menurut Sharif, upaya yang telah dilakukan KKP diantaranya penyusunan regulasi sebagai penjabaran lebih lanjut atas pengesahan konvensi PBB mengenai keanekaragaman hayati. Kedua, disusun pijakan bagi institusi teknis dalam menyusun ketentuan operasional dalam pelaksanaan pengawasan dan pengendalian Species Invasif. “Untuk itu perlu segera ditetapkan Species Invasif dari jenis ikan, sehingga pelaksanaan pengawasan dan pengendaliannya  menjadi semakin lebih fokus dan terarah”, kata Sharif.

Sharif menjelaskan, untuk mencegah dan mengendalikan species invasif perlu keterlibatan berbagai pihak secara bersama melalui koordinasi yang kuat lintas sektoral untuk membangun kebersamaan di tingkat nasional.  Termasuk upaya peningkatan dukungan pemerintah terhadap penelitian dan pengembangan terkait dengan dampak species asing invasif, seperti dengan metode untuk mitigasi dampak. Perlunya segera dilakukan pengendalian terhadap species invasif yang sudah menetap secara domestik bersama instansi pemerintah lainnya. Seperti dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup) dibawah koordinasi Kementerian Lingkungan Hidup sebagai focal point dari Convention on Biological Diversity (CBD). “Perlu dibangun sebuah sistem informasi yang lengkap menyangkut penyebaran dan peredaran, deteksi ancaman dan serangan. Serta upaya pengendalian dan eradikasi species invasif  domestik atau internasional di masing-masing kementerian teknis, yang saling bertaut,” tambah Sharif.

Menyadari pentingnya hal tersebut, KKP melalui Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) bersama beberapa kementerian terkait, hari ini (9/6) menyelenggarakan Seminar tentang Strategi Nasional Pengelolaan Spesies Invasif. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman tentang strategi dan langkah-langkah pengelolaan spesies invasif di Indonesia, sekaligus sebagai langkah nyata dalam pencegahan dan pengendalian SAI di tanah air.

Kepala BKIPM  Narmoko Prasmadji disela kegiatan seminar tersebut menjelaskan, upaya pencegahan terhadap species yang berpotensi sebagai species invasif, harus dapat dilaksanakan di semua titik-titik pelabuhan pemasukan di seluruh Indonesia. Terutama dengan mengintegrasikan perkarantinaan dan penilaian resiko lingkungan sebelum dilakukan suatu introduksi species. Upaya lain, mengembangkan kerangka kerja legal berkaitan dengan spesies invasif di Indonesia sebagai dasar aturan analisis risiko dan sistem pengendalian species invasif. Baik untuk pemasukan dan pengeluaran maupun untuk eradikasi species invasif yang sudah mapan di Indonesia. Perlu juga dilakukan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap species invasif, melalui sosialisasi, edukasi maupun penegakan hukum. “KKP juga telah berupaya mengendalikan  kemungkinan masuknya jenis asing invasif tersebut dengan menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: PER.17/MEN/2009 tentang Larangan Pemasukan Beberapa Jenis Ikan Dari Luar Negeri ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia,” ungkap Narmoko.

Narmoko menjelaskan, dampak negatif introduksi ikan asing, telah dirasakan di Indonesia dan banyak Negara.  Meledaknya populasi ikan Sapu-sapu, Keong Mas dan ikan Mujair di beberapa perairan umum menunjukkan adanya dominasi dan ketidak seimbangan populasi yang  dapat menurunkan populasi bahkan mungkin kepunahan species ikan asli di perairan. Populasi ikan Mujair di Waduk Cirata semakin berkurang, tapi ironisnya populasi ikan Louhan meningkat, sedangkan di waduk Sempor, Jawa Tengah, ikan Wader dan ikan Betik yang dulunya berlimpah sekarang sudah jauh berkurang, dan sebaliknya ikan Oscar dan Louhan banyak ditemukan. “Ikan-ikan asli di perairan Bangka seperti Belida, Tapah, sekarang populasinya tergusur oleh ikan Toman yang dahulu ditebarkan sebagai upaya reklamasi bekas galian tambang,” katanya.

Ditambahkan, populasi ikan Depik, ikan asli danau Laut Tawar, Aceh  mulai terdesak oleh ikan Nila yang diintroduksikan ke danau tersebut. Ikan setan merah (red devil) yang masuk secara tidak sengaja bersama aneka jenis benih ikan di waduk Sermo, Yogyakarta populasinya semakin tidak terkendali, memangsa ikan lain seperti ikan Mas, Tawes, Nila di waduk tersebut. Setelah 10 tahun sejak ikan itu masuk ke waduk tersebut, hasil tangkapan semakin menurun dan sekitar 75% dari hasil tangkapan adalah ikan red devil. Saat ini ikan tersebut juga semakin mengancam populasi ikan lain di Waduk Cirata, dan Kedung Ombo. “Contoh lain, Lobster air tawar Cherax quadricarinatus yang diintroduksikan ke danau Maninjau, Sumatera Barat dikhawatirkan akan menjadi jenis invasif karena lobster ini mempunyai laju pertumbuhan dan fekunditas yang superior,” tambah Narmoko.

Menurut Narmoko, bersamaan masuknya jenis ikan asing, masuk juga beberapa jenis penyakit asing eksotik yang menyerang ikan budidaya maupun ikan perairan umum. Beberapa jenis penyakit eksotik yang masuk ke Indonesia ada 13 jenis. Diantaranya, Lerneae cyprinacea, pada ikan Mas, Viral Nervous Necrosis Virus (VNNV)  pada ikan Kerapu, Koi herpesvirus (KHV) pada ikan Koi dan Mas, White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan taura Syndrome Virus (TSV) pada udang.  Wabah penyakit pertama diketahui tahun 1932 di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang disebabkan  parasit Ichthyophthirius multifilis yang diduga masuk ke Indonesia bersama ikan yang diimpor dari Amerikan dan Eropa. Parasit Myxobulus pyriformis menyebabkan kematian masal benih ikan Mas di Jawa Tengah pada tahun 1951. ”Lernaea cyprinacea, parasit cacing berbentuk jangkar yang berasal dari Jepang masuk pada awal 70-an menyebabkan kematian sekitar 30% benih ikan Mas, ikan Tawes, ikan Tambakan, ikan Gurame  di pulau Jawa, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara,” jelasnya. 

 

Jakarta,  10  Juni  2014

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
sumber : http://www.kkp.go.id

Sabtu, 24 Mei 2014

ikan Hampala (Beureum Panon) /Brek, Puntius orphoides,

ikan Hampala Brek, Puntius orphoides,


Ikan Hampala /Brek atau mata merah (Puntius orphoides) adalah merupakan  sejenis ikan air tawar anggota suku Cyprinidae. Ikan ini menyebar luas di Indocina dan kepulauan Sunda[3]. Nama-nama lainnya, di antaranya: maroca, marococa, wadonan (Btw.); brek, pekiseh, lunjar, wader(Jw); dan sisik milik, ampa (Sd.)[4]
Di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya, ikan ini juga dikenal dengan sebutan beureum panon (Sd.: mata merah).
Dalam bahasa Inggris, ikan brek dikenal dengan nama Javaen Barb.
Klasifikasi ikan hampala /beureum panon
Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Cypriniformes
Famili:Cyprinidae
Genus:Puntius
Spesies:P. orphoides


Ciri Ikan hampala , Ikan ini yang bertubuh sedang, panjang total (ujung kepala sampai ujung ekor) hingga mencapai 250 mm. jumlah Gurat sisi antara 31-34 buah. 5-5½ sisik di antara awal sirip dorsal dengan gurat sisi. pada  Batang ekor dikelilingi 16 sisik. Jari-jari keras (duri) yang terakhir pada sirip dorsal bergerigi 30, halus. 
Sirip ekor ikan hampala ini dengan tepi atas dan bawah berwarna hitam; bintik hitam pada batang ekor. pada Ikan hampala muda dengan beberapa deret bintik gelap sepanjang barisan sisiknya.[3]
Tinggi tubuh ikan ini 2½ hingga hampir 3 kali berbanding panjang standar (tanpa sirip ekor). Panjang kepala 3,2 – 4 kali berbanding panjang standar. 
Mata 4-6 kali lebih pendek daripada panjang kepala. Rumus sirip dorsal IV (jari-jari keras).8 (jari-jari lunak); sirip dubur III.5; sirip dada I.14-16; dan sirip perut I.8. Sirip perut lebih pendek daripada sirip dada, tidak mencapai anus.
sumber : http://id.wikipedia.org/

Klasifikasi Ikan Lele

Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Actinopterygii
Ordo:Siluriformes
Famili:Clariidae
Genus:Clarias
Scopoli, 1777

Ikan Lele, secara ilmiah ikan lele banyak spesiesnya. Tidak mengherankan pula apabila lele di indonesia mempunyai banyak nama daerah. 
Antara lain: 
- ikan kalang (Sumatera Barat), 
- ikan maut (Gayo dan Aceh), 
- ikan sibakut (Karo), 
- ikan pintet (Kalimantan Selatan), 
- ikan keling (Makassar), 
- ikan cepi (Sulawesi Selatan), 
- ikan lele atau lindi (Jawa Tengah
- ikan keli (Malaysia), 
- ikan 'keli' untuk lele yang tidak berpatil sedangkan disebut 'penang' untuk yang memiliki patil (Kalimantan Timur).
- Di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), 
- plamond (Thailand), 
- gura magura (Srilangka), dan 鲇形目 (Tiongkok). 
- sedangkan untuk dalam bahasa Inggris disebut pula catfishsiluroidmudfish dan walking catfish. Nama ilmiahnya, Clarias, berasal dari bahasa Yunanichlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar air
sumber : http://id.wikipedia.org/

Rabu, 21 Mei 2014

Indonesia Produsen Terbesar Mutiara Alam Laut Selatan

INDONESIA PRODUSEN TERBESAR
MUTIARA ALAM LAUT SELATAN

Kemilau cahaya mutiara alam laut selatan dari Indonesia (Indonesian South Sea Pearl/ISSP) belum diikuti dengan ketenaran namanya di dunia bisnis mutiara internasional. Padahal mutiara di Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang sangat tinggi, dimana Indonesia telah menjadi produsen terbesar penghasil mutiara laut selatan sejak tahun 2005. Indonesia menguasai 50 persen dari total produksi mutiara dunia dan nilai ekspornya telah menyentuh angka 29 juta dolar AS. Nilai tesebut masih berpotensi untuk ditingkatkan, mengingat Indonesia memiliki dan menguasai faktor-faktor pendukung seperti areal budidaya, tenaga kerja, peralatan pendukung dan teknologi. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mendorong  promosi ISSP secara intensif  dan tepat agar dapat meningkatkan perekonomian nasional. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo di Jakarta, Rabu (21/5).

Pemerintah bersama pelaku usaha terus berupaya mendorong promosi dan mempercepat industrialisasi mutiara yang bernilai tambah. Beberapa upaya telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan beberapa asosiasi pengusaha dan pembudidaya mutiara Indonesia. Salah satunya melalui penyelenggaraan pameran Festival Mutiara Indonesia  (Indonesian Pearl Festival/IPF) yang telah memasuki tahun keempat. Tahun ini pameran tersebut akan dihelat pada tanggal 27 – 29 Agustus 2014 dalam rangkaian acara Marine and Fisheries Exposition and Seminar di Jakarta Covention Centre, Jakarta. “Selain itu, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, bulan September lalu telah diterbitkan buku ISSP yang merupakan buku pertama di Indonesia mengenai mutiara laut selatan”, ujar Sharif.

Sharif menjelaskan, mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan sektor kelautan dan perikanan yang memiliki prospek pengembangan usaha sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Pada sisi perdagangan, Indonesia menempati urutan ke-9 dunia atau 2,07 persen dari total nilai ekspor mutiara di dunia yang mencapai 1,4 miliar dolar AS.Negara  tujuan ekspor  meliputi Jepang, Hongkong, Australia, Korea Selatan, Thailand, Swiss, India, Selandia Baru dan Perancis”, ungkap Sharif.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Saut P. Hutagalung  menjelaskan, pasar mutiara dunia didominasi empat jenis mutiara, yaitu Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) dengan negara produsen adalah Indonesia, Australia, Filipina dan Myanmar, dengan produksi per tahun sebesar 10-12 ton. Kedua, Mutiara Air Tawar (Fresh Water Pearl) dengan negara produsen adalah China, dengan produksi per tahun sebesar 1.500 ton. Ketiga, Mutiara Akoya (Akoya Pearl) dengan negara produsen adalah Jepang dan China dengan produksi per tahun sebesar 15-20 ton.  Keempat, Mutiara Hitam (Black Pearl) dengan negara produsen adalah Tahiti dengan produksi per tahun sebesar 8-10 ton.

Menurut Saut, usaha industri budidaya mutiara di Indonesia telah ada sejak tahun 1970.  Sekitar 70 pengusaha penanaman modal dalam negeri (PMDN) danpenanaman modal asing (PMA) dari Jepang dan Australia yang menggandeng pengusaha Indonesia mulai menggeluti dunia budidaya mutiara diperairan Indonesia. “Dengan majunya teknologi  dan potensi  sumber alam yang luar biasa, maka Indonesia mengungguli industri mutiara dan berhasil menjadi produsen mutiara laut selatan sejak tahun 2005 sampai dengan kini”, jelas Saut.

Jakarta,  21  Mei  2014
Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
Pelaksana Tugas

sumber : http://www.kkp.go.id/

Senin, 12 Mei 2014

100 NEGARA HADIRI KONFERENSI TERUMBU KARANG GLOBAL

100 NEGARA HADIRI KONFERENSI TERUMBU KARANG GLOBAL
 
            Pertemuan global pertama di dunia terkait pengelolaan terumbu karang,  yaitu World Coral Reef Conference (WCRC) 2014 akan dihadiri setidaknya 200 peserta dari 100 negara yang mewakili unsur pemerintah, organisasi regional dan internasional, NGO, serta para ilmuwan dan akademisi. Presiden Republik Indonesia diagendakan akan membuka konferensi tersebut pada tanggal 16 Mei 2014 di Grand Kawanua International City (GKIC) Manado. Penyelenggaraan konferensi ini merupakan respon atas rusaknya terumbu karang secara global, yang menarik perhatian para pemimpin dunia untuk berperan serta dalam penanganannya. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo selaku Pengarah Panitia Nasional WCRC 2014 di Jakarta, Selasa (6/5).

            Menurut Sharif, penyelenggaraan WCRC akan menghasilkan Komunike Manado (Manado Comunique) berupa kesepakatan untuk menuju pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Selain itu diharapkan dapat menghasilkan suatu rencana aksi negara pantai dalam penyelamatan ekosistem terumbu karang, serta langkah-langkah aksi menuju konvensi pengelolaan terumbu karang berkelanjutan. “Acara ini akan diselenggarakan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah yang dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kondisi terumbu karang dunia yang semakin terdegradasi”, jelas Sharif.

            Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Sudirman Saad selaku Ketua Pelaksana Panitia Nasional WCRC tahun 2014 menjelaskan bahwa WCRC ini diselenggarakan dengan beberapa tujuan.  Pertama, untuk merumuskan upaya-upaya pemerintah dalam mengelola terumbu karang dunia secara berkelanjutan. Kedua, sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan ekosistem terumbu  karang lokal. Kemudian, untuk mengkaji kondisi terumbu karang dunia dan kaitannya dengan peran laut dalam perubahan iklim global serta pengelolaannya yang terkini dan dampaknya bagi kelangsungan usaha perikanan. Keempat, menghimpun dan merumuskan nilai-nilai kebersamaan, menyamakan persepsi dan tujuan dalam pelestarian dan pemeliharaan ekosistem terumbu karang oleh masyarakat. “Konferensi ini juga bertujuan untuk menginventarisasi, kompilasi, sinkronisasi dan menetapkan kebijakan serta tindakan nyata dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang”, jelas Sudirman.

            Sudirman menambahkan, sebagai rangkaian acara WCRC, diselenggarakan pula International Blue Carbon Symposium (IBCS), World Ocean Business Forum (WOBF), serta Extra Ordinary Senior Official Meeting (SOM) CTI-CFF dan CTI – CFF Ministerial Meeting (MM). IBCS bertujuan untuk menjembatani pertemuan antara peneliti dan pemangku kebijakan perihal blue carbon dalam lingkup coral triangle region. WOBF bertujuan untuk mempromosikan potensi dan peluang bisnis serta investasi kelautan dan perikanan Indonesia di forum Internasional, serta tukar informasi pengelolaan bisnis yang ramah terhadap lingkungan pesisir dan laut. “SedangkanSOM dan MM CTI-CFF merupakan agenda kegiatan dari Prakarsa Segitiga Karang (Coral Triangle Initiative/CTI)”, tambah Sudirman.

            Negara-negara di kawasan segitiga karang berinisiatif membentuk Coral Triangle Iniative on Coral Reef, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) pada tahun 2007 dan telah diselenggarakannya CTI-CFF Summit dan World Ocean Conference (WOC) pada tahun 2009 yang mana telah diupayakan kerjasama global dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berkelanjutan, termasuk di dalamnya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. “Para ilmuwan dalam Coral Reef Symposiumpada tahun 2012 menyatakan bahwa terumbu karang telah mengalami penurunan kondisi baik secara kuantitatif maupun kualitatif. “Peran ekologi, ekonomi dan sosial terumbu karang telah terancam terutama akibat aktivitas manusia  yang mengakibatkan sedimentasi dan polusi, pengrusakan habitat, serta overfishing. Salah satu rekomendai pertemuan tersebut yaitu menghimbau pemerintah agar berbuat sesuatu terkait pengelolaan terumbu karang berkelanjutan”, tutup Sudirman.


 Jakarta, 6 Mei 2014
 Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi
 selaku Sekretaris Bidang Media dan Humas WCRC 2014

sumber : http://www.kkp.go.id/

Minggu, 11 Mei 2014

MINAPOLITAN TULUNGAGUNG, TINGKATKAN PRODUKSI PATIN DI PROPINSI JAWA TIMUR

    MINAPOLITAN TULUNGAGUNG, TINGKATKAN PRODUKSI PATIN DI PROPINSI JAWA TIMUR
    Hits: 134 | Ditulis pada: 2014-04-13

    Kabupaten Tulungagung merupakan kawasan minapolitan perikanan budidaya. Kabupaten ini memiliki 4 komoditas utama yaitu patin, lele, gurame, dan ikan hias. Untuk komoditas patin dan lele cukup besar hasil panennya, Bahkan lele dan patin Tulungagung dapat memenuhi kebutuhan ikan di berbagai daerah di Indonesia. Khusus untuk produksi patin Kabupaten Tulungagung pada tahun 2013 mencapai 2.456,46 ton atau 68,08 % dari total produksi patin di Propinsi Jawa Timur. “Bisa dikatakan bahwa Kabupaten Tulungagung merupakan sentra budidaya patin di Jawa Timur”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, terkait kegiatan Budidaya Patin di kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Tulungagung telah menjadi kawasan industrialisasi. Sektor hulu telah terintegrasi dengan sektor hilir dengan pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan terus memperkuat infrastruktur pendukungnya, seperti jalan produksi, saluran air dan jaringan listrik. Demikian juga dukungan sektor lain sangat diperlukan. Mulai dari PLN, Kementerian PU dan perbankan, akan menjadikan Tulungagung menjadi kawasan industry perikanan yang lengkap. “Perputaran uang dikawasan Minapolitan Tulungagung juga sudah cukup besar. Bahkan untuk transaksi pembudidaya gurame, patin dan lele di perbankan mencapai lebih dari Rp 3 milyar. Ini membuktikan Perikanan budidaya sudah bankable dan menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Slamet Kabupaten Tulungagung mempunyai potensi sumber daya perikanan berupa perairan laut, payau, perairan umum dan budidaya ikan air tawar. Kegiatan usaha perikanan dalam memanfaatkan potensi tersebut meliputi cabang-cabang usaha tangkap laut dan perairan umum, budidaya udang di tambak dan budidaya ikan konsumsi maupun ikan hias air tawar di kolam pasangan, kolam tanah yang berupa pekarangan, tegalan, dan sawah.”Usaha perikanan budidaya telah menjadi pekerjaan utama bagi sebagian masyarakat atau warga Tulungagung, sehingga perikanan budidaya mampu menggerakkan roda perekonomian di daerah ini” tambah Slamet. Pembudidaya ikan hias di Kabupaten Tulungagung sebanyak 2.256 RTP dengan jumlah pembudidaya 3.396 orang yang terpusat di Kecamatan Sumbergempol, Kedungwaru, Boyolangu dan Tulungagung, sedangkan Pembudidaya ikan konsumsi sebanyak 10.370 RTP dengan jumlah pembudidaya 12.220 orang, yang tersebar di 12 Kecamatan potensi perikanan, yaitu Ngunut, Rejotangan, Sumbergempol, Boyolangu, Kedungwaru, Ngantru, Tulungagung, Pakel, Kalidawir, Karangrejo, Gondang, dan Kauman. Sedangkan untuk potensi budidaya ikan di air deras berada pada wilayah Kecamatan Pagerwojo dan Sendang.”Dengan jumlah pelaku usaha perikanan budidaya yang cukup banyak, maka tidak salah apabila KKP melalui DJPB terus mendukung dan mendorong berkembangnya usaha perikanan budidaya di Tulungagung ini. Ini adalah bagian dari komitmen pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sector perikanan budidaya”, pungkas Slamet.

    Sumber: DJPB RMR
    sumber : 
    http://www.djpb.kkp.go.id/

komentar-komentar

Recent Comments Widget by Blogger Widgets

Google+ Followers