Custom Search

Kamis, 20 Agustus 2015

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

PRINCIPLES OF POND FISH CULTURE

1. Fish are dependent for food directly or indirectly on plants.
2. The weight of fish which can be produced in natural waters is dependent upon the ability of the water to raise the plants. We could increase production by adding plant organic matter produced elsewhere.
3. The ability of water to produce plants is dependent upon sunshine, temperature, CO2, Mineral from soil or rocks, nitrogen (NO3- and NH4-) , O2 and water.
4. The Natural fertility of the water is dependent on the fertility of the soil in pond bottom and watershed.



Kamis, 21 Mei 2015

Pembesaran ikan jelawat di kolam air tenang

Pembesaran Jelawat di KAT Kolam Air Tenang

Sebelum penebaran benih jelawat,  perlu persiapan kolam,  seperti perbaikan kolam,  pengolahan tanah,  pengapuran,  dan pemupukan.  Selesai pemupukan kolam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah.  Hari ke-5 air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm,  Setelah sehari semalam,  air kolam tersebut ditebar benih jelawat.  Benih jelawat berbobot rata rata 10 g/ekor ditebar dengan kepadatan 20 -30 ekor/m2.  Padat penebaran ini diturunkan atau dinaikkan sesuai dengan ukuran benih yang ditebar.  Bila benih berukuran kecil,  misalnya 3-7 g/ekor atau ukuran 4-7 cm/ekor padat penebarannya ditingkatkan Menjadi hingga 50-100 ekor/m2. Bila benih yang ditebar berukuran lebih besar,  misalnya 20-30 g/ekor,  padat penebarannya cukup 15 - 20 ekor/m2. 

Penebaran benih dilakukan pada waktu cuaca teduh,  misalnya pada pagi hari atau sore hari.  Selama pemeliharaan,  jelawat diberi pakan buatan berupa pelet yang mengandung protein minimal 25%.  Pakan yang baik mengandung protein sekitar 28% Pakan diberikan sebanyak 3-5% dari bobot badan /hari.  Pakan diberikan 3 kali dalam sehari.  Selain itu,  jelawat budi daya juga dapat diberi pakan tambahan berupa daun singkong,  daun talas,  daun pepaya,  sayur afkir,  telur afkir,  dan sebagainya.  Daun-daunan dan sayur afkir dapat langsung diberikan kepada jelawat,  sedangkan telur afkir direbus terlebih dahulu supaya lebih mudah dimakan jelawat.  Pemeliharaan jelawat di KAT dilakukan antara 5-6 bulan untuk menghasilkan kan konsumsi ukuran 200-250 gekor.  Bila pemeliharaan dilakukan 7-8 bulan,  jelawat akan mencapai ukuran 300-400 g/ekor.
Sumber M.Ghufran H. Kordi K. 2013

Rabu, 06 Mei 2015

Perbedaan induk jantan dan induk betina ikan jelawat

- berat induk betina > 2,5 kg dan induk jantan > 2 kg
- umur induk betina >2,5 tahun, induk jantan > 2 tahun
- pada perut induk betina  bila matang gonad perut bagian  belakang menggembung di pada bagian dada lunak.
- bila perut diurut pada induk jantan bila diurut  bagian perut ke arah belakang akan mengeluarkan cairan sperma.
- alat genital pada induk betina agak menonjol dan berwarna merah cerah. Sedangkan pada jantan berwarna merah dan berbentuk kerucut
- sisik pada induk betina sisik di bagian perut agak renggang.
- sirip dada dan penutup insang pada induk betina sirip dada terasa halus bila diraba. Dan pada induk jantan terasa kasar.
- gerakan induk betina lamban dan jantan lincah dan menjadi galak

Sabtu, 02 Mei 2015

Reproduksi ikan Jelawat

Reproduksi ikan Jelawat. Ikan jelawat mulai memijah di awal musim hujan,  yaitu pada bulan Oktober-November.  Selama musim hujan,  jelawat mampu memijah 2-3 kali pemijahan.  Ketika hujan dan air hujan menggenangi daerah sekitarnya,  jelawat mulai melakukan pemijahan.  Ikan-ikan yang matang gonad beruaya ke muara sungai dan melakukan pemijahan pagi hari diiringi rintikan air hujan.  Telur jelawat bersifat melayang.  Telur yang dibuahi kemudian dibawa arus air ke bagian hilir dan menetas selama dalam perjalanan.  Anak-anak jelawat yang berukuran 2 -3 cm akan timbul ke permukaan air dan berenang secara berbondong-bondong menyusuri tepi sungai,  menentang arus menuju ke hulu.  Sedangkan anak-anak jelawat ukuran 4- 5 cm senang berada di tempat-tempat yang terlindung dari sinar matahari yang airnya agak tenang.  Jelawat dapat dipijahkan secara alami di kolam,  namun baru memijah pada awal musim hujan.  Ikan jelawat tidak memijah di luar musim hujan.  Untuk mengatasi itulah kemudian diterapkan teknik pemijahan buatan (induced breeding) dengan cara hipofisasi (penggunaan kelenjar hipofisa)  maupun hormon sintetis semacam ovaprim.  Jelawat telah berhasil dihipofisasi pada awal tahun 1978 oleh LPPD Bogor.  Tahun 2004 BBI Anjungan,  Kalimantan Barat,  telah berhasil memproduksi benih jelawat secara massal.  Sedangkan BBAT Jambi berhasil memijahkan jelawat secara massal sejak tahun 2006.
Sumber : M. Gugatan H. Kordi k. Budidaya ikan konsumsi di Air Tawar, 2013

Makanan dan kebiasaan makan ikan jelawat

Makanan dan kebiasaan Makan ikan Jelawat

Ikan jelawat termasuk jenis ikan pemakan segala (omnivora namun lebih cenderung memakan tumbuh-tumbuhan atau cenderung herbivora (pemakan tumbuhan)  Makanan ikan jelawat berupa biji buah-buahan,  bunga-bungaan,  dan daun-daun muda tanaman air maupun hewan-hewan kecil di dalam air.  Sedangkan anak-anak jelawat menyukai plankton,  alga,  dan larva serangga air. Dalam budidaya ikan, ikan jelawat dapat diberikan umbi singkong,  daun singkong,  daun pepaya,  daun talas,  ampas kelapa,  usus ayam,  daging-daging ikan yang telah dicincang,  dan sebagainya.  Untuk penggunaan pelet sebagai pakan dalam budidaya jelawat sebaiknya mengandung protein antara 25-30%  yang diberikan sebanyak 3-4%  dari berat total untuk pembesaran.  Sedangkan untuk peliharaan induk diberikan pelet yang mengandung protein 35-38% sebanyak 2 -3%  bobot total ikan.  Dari bentuk mulut diketahui bahwa jelawat lebih menyukai makanan yang melayang Jelawat termasuk ikan yang memakan dengan cara menyambar.

Sumber : M.Ghufron H. Kordinator K., budidaya ikan konsumsi di Air Tawar. 2013.

Jumat, 01 Mei 2015

Habitat dan kebiasaan hidup ikan jelawat

Habitat,  Kebiasaan Hidup,  dan Penyebaran ikan jelawat. Habitat jelawat adalah sungai,  danau,  waduk,  dan daerah genangan atau rawa.  Jelawat banyak ditemui di daerah genangan air kawasan tengah hingga hilir,  bahkan muara sungai.  Jelawat menyukai perairan pada anak-anak sungai yang berlubuk dan berhutan di bagian pinggirnya.  Sedangkan anak-anak jelawat banyak dijumpai di daerah genangan pada daerah aliran sungai(DAS).  Pada saat air menyusut,  anak-anak jelawat secara bergerombol berenang ke bagian hulu sungai.

Anak-anak jelawat ukuran 2 -3 cm bermunculan di awal musim hujan pada bulan Oktober-November dan berenang secara bergerombol menyusuri tepi sungai,  menentang arus menuju ke hulu.  Sedangkan anak-anak jelawat ukuran 4-  5 cm menyukai bagian perairan yang terlindung dari sinar matahari dan airnya agak tenang.  Jelawat hidup pada pH 5-7,  oksigen terlarut 5- 7 ppm,  dan suhu 25- 37 °C.  Sebagai ikan yang dapat hidup di perairan tergenang atau rawa,  jelawat hidup di perairan yang agak hangat.  Karena itu,  ketinggian yang ideal untuk budi daya jelawat antara 0-500 m di atas permukaan laut(dpl).  Jelawat tidak cocok dipelihara lebih dari 500 m dpl. 

Kriteria kualitas air untuk budidaya ikan jelawat
Suhu (○C) nilai batas 20 - 30○C , nilai optimal 25 - 33 ℃.
pH nilai batas 5 - 7 nilai optimal 6,5 - 8,5,
oksigen terlarut (mg/l) nilai batas 4-7 nilai optimal 5-7.
Karbondioksida (mg/l) nilai batas 5 - 15 nilai optimal <5.
Amonia (mg/l) nilai batas <0,016 nilai optimal <0,016
Nitrit (mg/l) nilai batas <0,1 nilai optimal <0,016.
Kecerahan  (cm) nilai batas  25 -45 nilai optimal 30 -45.
Sumber : M.Ghufron H. Kordinator K., budidaya ikan konsumsi di Air Tawar. 2013.

Kamis, 30 April 2015

Mengenal ikan jelawat

MENGENAL IKAN JELAWAT. Ikan Jelawat (Leptobarbus hoevenii)  adalah salah satu jenis ikan perairan umum yang masih ditangkap di alam. ada Tiga spesies lain yang satu genera dengan ikan jelawat. Yaitu genus Leptobarbus yaitu Leptobarbus hosii,  L.  melanopterus,  dan L melanotaenia ketiga jenis ikan tersebut sudah sulit ditemukan.  Dalam Daftar Merah spesies yang terancam punah yang diterbitkan oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)  tahun 1990 tercantum 29 spesies ikan air tawar dari Indonesia, dua diantaranya L. hosii dan L.melanotaenia.
Klasifikasi dan morfologi
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Leptobarbus
Species : Leptobarbus hoevenii

Jenis ikan-ikan dari genus Leptobarbus mempunyai gurat sisi yang memanjang dari bagian bawah batang ekor dan berakhir di bawah pertengahan pangkal sirip ekor,  7-8 1/2  jari-jari bercabang pada sirip punggung,  jari-jari terakhir tidak ber-  gerigi(Kottelat et al.,  1993).  Jenis Leptobarbus hoevenii atau jelawat mempunyai 4 1/2  sisik antara gurat sisi dan awal sirip punggung.  Di sekeliling batang ekor di tempat yang terendah 14 sisik,  di antaranya 7 di atas garis rusuk.  Jelawat mempunyai tubuh yang memanjang seperti torpedo yang menandakan sebagai ikan perenang cepat,  kepala sebelah atas agak mendatar,  dan mulutnya berukuran sedang.  Tubuh ditutupi oleh sisik-sisik berukuran agak besar yang berwarna putih keperak-perakan.  Bagian punggung sampai kepala agak kehitam-hitaman atau kelabu kehijauan.  Sirip perut dan sirip ekornya berwarna agak kemerah-merahan.

Jelawat tergolong ikan berukuran besar.  Di alam,  jelawat dapat tumbuh hingga mencapai ukuran sekitar 50 cm dan berat sekitar 50 kg per ekornya.  Benih jelawat dapat dipajang di akuarium sebagai ikan hias karena memiliki warna yang menarik.  Sedangkan ikan-ikan berukuran besar menjadi salah satu ikan tujuan pemancingan.  Jelawat sangat disukai oleh pemancing ikan air tawar karena merupakan ikan perenang cepat dan memakan umpan dengan cara menyambar.  Jelawat mempunyai nama lokal yang cukup banyak.  Di Jambi,  Sumatera Selatan dan Lampung dikenal sebagai lemak atau klemak.  Di Kalimantan Tengah disebut manjuhan.  Di Malaysia dikenal sebagai sultan,  sedangkan di Thailand disebut plaba.  Di Jambi,  Sumatera Selatan,  dan Lampung,  benih jelawat ukuran 10-20 cm. disebut sebagai jelejar atau jelejer.
Sumber : M.Ghufron H. Kordinator K., budidaya ikan konsumsi di Air Tawar. 2013.

Perbedaan seks sekunder pada ikan gabus

Induk Betina
Bentuk kepala membulat
Badan tebal dan membulat
Warna tubuh lebih terang
Alat genital  berwarna merah
Bentuk perut membesar kearah anus
Apabila perut ikan diraba akan terasa lunak
bila perut dipijat tidak mengeluarkan sesuatu, gerakan lambat.
Induk jantan
Bentuk kepala lonjong
Badan  kurang tebal dan membulat
Warna tubuh lebih gelap.
Alat genital berwarna kemerah. Bentuk perut ramping, bila perut diraba terasa biasa
Bila perut dipijat mengeluarkan  cairkan putih, gerakan lincah dan garang

komentar-komentar

Recent Comments Widget by Blogger Widgets

Google+ Followers